Archive

Archive for the ‘Cerpen’ Category

M e n u n g g u

July 16th, 2010 wawan No comments

Saiman itu iri kepada anak-anak. Karena anak-anak telah mencuri mimpi-mimpinya. Lelaki yang tak pernah merasakan masa kanak-kanak itu dongkol setiap kali saudara atau teman-temannya datang berkunjung dengan membawa serta anak-anak mereka.
Saiman akan memelotokan mata kepada anak-anak itu dan terus memperlihatkan wajah yang tak bersahabat sepanjang kunjungan kerabatanya. Maka itulah, Saiman [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Bidadari Tak Pernah Pulang Pagi

June 26th, 2010 wawan No comments

Ayah bilang, setiap istri adalah bidadari. Tapi ayah tidak pernah menjelaskan, bahwa bidadari tak pernah pulang pagi.
**
Aku memandangi Arale, putriku yang masih berusia 10 bulan. Wajahnya nampak lucu. Matanya yang lentik sesekali mengedip ke arahku. Gadis kecilku ini baru saja terdiam setelah 15 menit lalu menangis hebat karena lapar.
Mulut mungilnya [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Sepasang Mata di Malam Hari

June 26th, 2010 wawan No comments

Suatu waktu aku ingat perkataan nenek, saat kami datang berdua mengunjunginya di sebuah rumah di kaki gunung. Sebelum kami sendiri yang menyaksikan ajalnya tiba. Ia masih tertawa berseri-seri dengan sederet gigi palsunya. Dengan sepasang mata yang masih ceria. Saat itu, di bawah aroma kebun teh Goalpara, aku masih mengingatnya ketika aku [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Hujan Air Mata

June 15th, 2010 wawan 1 comment

Pagi itu langit kelabu. Tapi tak cukup kelabu untuk menyurutkan langkah kaki orang-orang di suatu stasiun kereta. Penunjuk waktu menunjukkan bahwa tiga puluh menit lagi kereta akan tiba. Aku masih menunggu. Bukan kereta yang aku tunggu, tetapi Arjuna.
**
Arjuna. Lelaki itu telah berhasil membiusku dengan pesonanya pada pandangan pertama. Hampir dua [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

L u k i s a n

May 28th, 2010 wawan No comments

Aku melangkah melewati pintu kaca besar ini untuk ketiga kalinya. Lukisan bidadari jatuh dari awan masih setia menyambutku. Aku menyebutnya bidadari karena ia serupa manusia dan bersayap. Lukisan itu indah. Sangat indah. Tapi bukan lukisan favoritku. Lukisan bidadari itu terlalu rumit, terlalu bermakna, dan sungguh aku tak bisa mengerti keseluruhan [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Lelaki yang Terperangkap dalam Prangko

May 17th, 2010 wawan No comments

Dengan perasaan yang tak karu-karuan, dan sikap berhati-hati, sambil duduk bersila di lantai, Balwadi menjepit sebuah prangko yang ditemukannya dalam kotak surat milik almarhum kakeknya. Menggunakan pincet yang terbuat dari logam tahan karat, ia menilik-nilik prangko dalam jepitan itu. Sungguh menyesal, karena ia tak membekali dirinya dengan sebuah kaca pembesar.
Matanya [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Aku Pernah Datang dan Aku Sangat Patuh

May 12th, 2010 wawan No comments

Kisah tentang seorang gadis kecil yang cantik yang memiliki sepasang bola mata yang indah dan hati yang lugu dan polos. Dia adalah seorang yatim piatu dan hanya sempat hidup di dunia ini selama delapan tahun. Satu kata terakhir yang ia tinggalkan adalah aku pernah datang dan aku sangat patuh. Anak ini [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Suara Serak di Seberang Radio

May 10th, 2010 wawan No comments

Menjelang tengah malam di pondok perebus air nira, udara dingin akan mengalah pada nyala api di tungku. Selain rungut sekawanan kera mempergelutkan cabang tempat tidur, gelegak air nira dalam kancah berebut dendang dengan suara yang ditimbulkan getar sayap belalang di rimbun belukar. Bagi Yarman, pada saat-saat begini, menyeruput tengguli bercampur [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Kado untuk Ayah

May 8th, 2010 wawan No comments

Hari ini tugas baru menantiku. Aku bergegas mengganti seragam dan berlari menuju tempat kerja baruku. Begitu spesial, karena ini adalah pertama kalinya aku mencoba bekerja.
Langkahku terhenti menatap bayangan seorang gadis berseragam pink dengan rambut dikuncir dihiasi pita merah muda. Aku tersenyum dan bayangan gadis itu ikut tersenyum. Hari ini aku [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Perempuan Api

May 5th, 2010 wawan No comments

Dia melenguh. Sebentar kemudian mengerang pelan. Secepat kilat aku berpendar. Menjadi debu. Untuk kemudian menjadi diriku lagi. Saat dia membuka mata, aku sudah tersenyum. Ditatapnya aku dengan pandangan memuja, “Kamu hebat sekali.”
Dan kujawab manja, “tentu saja.”
Aku Perempuan Api. Anak dua bongkah batu yang sengaja dipertemukan. Mereka bercinta. Lalu lahirlah aku. [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,