Archive

Archive for the ‘Cerita’ Category

Aku Menunggumu di Kafe Itu

May 3rd, 2010 wawan No comments

AKU menunggumu di kafe itu, Cafe Momento namanya, karena merasa kau akan datang bak kerap kurasakan hari-hari belakangan. Aku duduk sendiri seperti dulu saat menunggumu. Dengan minuman seperti dulu, karena pelayan itu, bagai dulu pula, meninggalkanku usai tarok minuman. Tak ia tunggu kubuka daftar menu, seolah ia tak pernah lupa bahwa itu baru nanti aku [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Empat Puluh Empat Bidadari

May 2nd, 2010 wawan 1 comment

Kuseruput madu yang kuambil langsung dengan kedua tapak tangan dari sungai madu yang mengalir pelan di bawah ayunanku. Kurasakan nikmat manisnya yang tiada tara. Kupandang lekat-lekat segenap keindahan sekeliling yang membuat mata tak ingin berpejam selamanya. Suara-suara yang menetramkan itu, kicau-kicau burung, bisikan-bisikan angin, wangi yang semerbak tak henti, semuanya membuatku teramat bahagia. Sungguh, aku [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Selamat Jalan Pengamen Kecilku

April 29th, 2010 wawan No comments

Seminggu, dua minggu, dan hampir sebulan tak kutemui lagi pengamen kecil dalam bis yang selalu kutumpangi tiap pagi. Setiap kali bis berhenti di halte Cakung, naiklah dia, seorang pengamen kecil dengan wajah yang kucel dan lugu. Memakai kaos murahan bergambar Iwan Fals dan di tangan pengamen itu tergenggam gitar kecil yang [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Lelaki yang Mencintai Bulan

April 29th, 2010 wawan No comments

Kalau suatu kali kau lihat seorang laki-laki berdiri di pinggir kali dengan mata nanar, mengais-ngais dasar kolam saat malam, dan bulan berwarna suram, ialah lelaki yang hendak kuceritakan. Lelaki itu mencintai bulan. Seringkali ia berteriak marah-marah apabila ia mendengar seseorang mengucap atau menulis kata bulan dengan kata rembulan.
“Bedebah! Jangan sekali-kali kau ucap [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Malina dalam Bus Tua

April 28th, 2010 wawan 1 comment

Malina belum menentukan ke mana ia akan pergi ketika ia menumpang bus tua. Dia hanya tahu bus itu akan keluar dari kota kecil tempat ia tinggal, dan itu pula tujuannya.
Ada beberapa kursi kosong. Malina bergerak ke dalam dan memilih duduk di pinggir, dekat jendela yang terbuka. Kursi di sampingnya belum terisi. [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Malam, Sebuah Kota

April 27th, 2010 wawan No comments

Larut malam. Ia terus berjalan, membiarkan dirinya hanyut dalam arus pikiran. Kota begitu lengang. Sesekali, ada raan lewat dengan mesin menggema, lalu kendaraan lewat dengan mesin menggema, lalu lenyap dengan cahaya melesat. Pohon asam yang berjejer sepanjang jalan tampak bagai raksasa mengenakan mantel kebesarannya.
Sebatang beringin tua menyerupai seorang pertapa, penuh [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Wanita Pengagum Rahasia

April 22nd, 2010 wawan No comments

Andai saja kau tahu, malam sesunyi ini selalu kuhabiskan dengan mendengar nyanyian katak. Hujan memang sudah lama reda, tapi katak-katak itu terus bersenandung. Dan bunyi jangkrik terdengar di kejauhan. Aku memang di sini, teronggok pilu di atas  ranjang biru yang semakin berdebu. Tapi kau tak pernah tahu atau memang tak akan [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Sekental Darah

April 18th, 2010 wawan No comments

“Sudah kau putuskan?”
“Sudah,” ujar Rahim sambil menggeleng. Lelaki itu terus memandang kosong selembar undangan yang terletak di atas meja rotan.
“Dia minta kesediaanmu untuk menjadi saksi pada pernikahan anaknya. Sebagai saudara,  harusnya kau penuhi,”saran Sophia, istri Rahim.
“Justru itu. Aku kenal dia. Dia…. Busuk!”ketus Rahim sambil beringsut dan melempar pandang ke halaman.  [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Bunda, Kapan Ayah Pulang?

April 14th, 2010 wawan No comments

Suara deru motor terdengar cukup kencang dari arah depan rumah.  Ali kecil langsung berlari tergopoh-gopoh menuju ke ruang tamu.
“Ayah datang!  Ayah datang!”
Tapi sesampainya di ruang tamu, Ali kecil yang mengintip dari jendela ruang tamu hanya bisa mendapatkan kekecewaan yang mendalam.  Bukan sang ayah yang datang melainkan Pak Salim, tetangga depan [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Jane, Sepotong Cerita

April 14th, 2010 wawan No comments

Kami bertemu belum lama ini, beberapa waktu yang telah lalu di tempat ini. Dia terlihat sangat cantik waktu itu. Pertemuan itu pun tidak disengaja. Aku setengah mabuk ketika membawa gelas dengan isi yang tersisa lebih dari setengahnya menuju lantai dansa. Orang yang pikirannya masih normal tentu tidak akan membawa serta gelasnya [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,