Archive

Archive for the ‘Cerita’ Category

Menulis Angin

April 14th, 2010 wawan No comments

“Terkadang anginpun perlu berhenti sejenak, untuk menghela nafasnya yang mulai tersengal”.
Entah mengapa, aku begitu ingin menulis tentang angin. Mungkin karena aku dilahirkan di sebuah kota yang di juluki sebagai kota angin di mana angin selalu berhembus dengan kencang hampir sepanjang tahun. Desaku memang berada dilembah gunung Liman dan ditepian bantaran [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Malam Ini, Aku Menunggu Kematian

April 13th, 2010 wawan No comments

Aku merebahkan tubuh di atas genting rumah sambil menatap lurus ke atas langit yang hitam. Angin-angin memanjakan bulu roma. Aku bersidekap, menyembunyikan rasa dingin di balik jaket merah yang kupakai. Jariku mulai bergerak. Aku hitung jumlah kematian yang menghampiri orang-orang sekelilingku lalu mengandaikan tiap bintang yang menempel di langit sana [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Lelaki Pendongeng dan Gadis Senja

April 9th, 2010 wawan No comments

Bertahun-tahun ia telah berjalan dari kota ke kota, singgah di banyak tempat, bertemu dengan bermacam orang, namun tak pernah sekalipun terbersit keinginan untuk tinggal di salah satunya dan hidup bersama orang-orang baik hati yang ia temui. Namun pada suatu senja yang remang, ketika ia tengah berdiri sejenak di bawah lampu jalan [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Beli Waktu Ayah

April 3rd, 2010 wawan No comments

Cerita ini saya dapat dari Note’s Facebook teman saya Margono, beberapa hari yang lalu saya di tag oleh beliau mengenai Note’s ini. dan menurut saya, Cerita ini sangat mengagumkan. Banyak makna yang tersimpan dalam Cerita ini, hingga tanpa sadar kita akan merasa terharu.
Sebelum Cerita ini saya Posting pada Blog ini, terlebih dahulu saya sudah ijin [...]

Categories: Cerita, Renungan Tags: ,

Mengejar Matahari

April 2nd, 2010 wawan No comments

SEMUA orang di kampung ini pasti masih ingat bahwa ayahku pemarah. Ayahku sadis. Ayahku suka berlebihan memukuli anak-anaknya. Orang-orang kampung sering memperingatkan ayah, tetapi tidak pernah diperdulikan. Bahkan sekali waktu ia pernah menantang Kepala Kampung yang datang mencoba menenangkannya.
“Aku punya hak mengatur rumah tanggaku ! Mengatur anak-anakku ! Kalian mau [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Denting Piano di Pagi Itu

March 11th, 2010 wawan No comments

Hari masih teramat pagi. Kabut pun masih tebal bergulung-gulung. Belum ada terik mentari sehingga belum masanya pula titik-titik embun menguap meninggalkan dedaunan. Jalan menanjak agak becek berkat hujan semalam yang meski hanya sebentar, mencurah dengan derasnya. Rieke tak bisa berjalan seperti biasa. Terkadang, ia harus melompat-lompat kecil, menghindari genangan. Sepatu sport yang dipakainya, berlumur lumpur [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Elang Pengabar

February 27th, 2010 wawan No comments

TIBA-TIBA elang itu muncul setelah berbulan-bulan menghilang. Menjelang siang ia tampak melayang tinggi dan berputar mengitari bukit pekuburan. Lengking suaranya ngilu hingga ke kampung. Elang pengabar atau lali parboa, dipercaya menebar jou-jou na holom atau panggilan kematian kepada ruh sesiapa yang hendak dijemputnya.
Orang sekampung geger dan segera membuat spekulasi dalam takut yang mencekam. Suara kematian [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Sayap-Sayap Patah

February 25th, 2010 wawan No comments

Kupandang sosok mungil yang teronggok di sudut halaman gudang yang gelap itu. Kukerjapkan mataku lagi, tak percaya pada apa yang tersaji di depan pandangku. Mahluk kecil itu seperti anak yang tengah bersedih. Meringkuk bergelung di balik tumpukan kardus-kardus bekas. Wajahnya tersembunyi di balik lengannya yang terlipat di lutut yang tertekuk ke tubuhnya. Ada benda seperti [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Tentang Tiada

February 24th, 2010 wawan No comments

MENUNGGU
Tak ada yang berubah di kafe ini. Gebyok kayu yang jadi aling-aling, tetap berada di situ. Seperti cadar pengantin yang malu-malu, lubang-lubang ukirannya mengijinkan mata mencuri intip ke ruang di baliknya. Cahaya merembes lewat celah di antara genteng tanah liat, menggambar lingkaran-lingkaran acak di lantai terakota. Angin mengisik. Bau debu mengambang samar di udara, bercampur [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,

Yang Kembali Ke Jalan-Nya

February 23rd, 2010 wawan No comments

Aku tak pernah menyangka akan bisa sehebat ini. Rumahku besar, berhalaman luas. Hartaku banyak, bertumpuk uang di berbagai bank. Istri cantik, dan mungkin akan ditambah seorang-dua. Bukankan ini kenikmatan dunia? Apalagi anak-anakku menunjukkan prestasi seperti kehebatan bapaknya. Romi, anak sulungku, telah bekerja di perusahaan ekspor-impor dengan gaji hampir menyamaiku. Ruhut, si tengah, masih kuliah, namun [...]

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,