February 21st, 2010
wawan
Azan magrib mengapung di langit.Sunu membelokkan mobilnya ke sebuah hotel.Tak mau mengambil risiko dalam perjalanan, diputuskannya bermalam di kota kecil itu.
Bukan mudah menyetir mobil sendirian tengah malam, melewati leliku hutan pinus dan jati, menempuh jalan yang berhias lubang di sanasini, bila tubuh sejak tadi mengirim sinyal letih. Setiap mengurus bisnis mebelnya di luar kota, Sunu [...]
February 20th, 2010
wawan
JARWAL masih menyisakan bagian dari kota tua. Gedung-gedung bertingkat terlihat digerogoti usia. Dinding-dindingnya kusam, melepuh seperti kulit terbakar. Di ujung Jalan Al-Sadah, kulihat puncak gunung yang gersang di sebelah barat. Aku terus menapak, belok ke timur lewat Jalan Al-Mahakem hingga tembus ke Jalan Al-Tayssir. Di Jarwal, kulihat langit memucat seperti kain kafan terbentang. Sesekali terlihat [...]
February 20th, 2010
wawan
Bila senja tiba, perempuan itu melintas di Jalan Casablanca. Lalu dengan hati-hati ia berjingkat menapaki anak tangga jembatan penyeberangan di depan Gedung Sampoerna Strategic Square. Tatapan mata perempuan itu menerawang, seolah mengenang masa-masa kelam. Setelah itu, ia turun kembali menapaki anak tangga jembatan penyeberangan.
Petang ini hujan turun gerimis. Deras hujan telah reda beberapa waktu yang [...]
February 20th, 2010
wawan
Yang hidup di tepi laut, tak takut menyambut maut.
Tapi ia, juga orang-orang yang tubuhnya telah lama tertanam dan tumbuh-biak-berakar di kampung nelayan ini, adalah sekelompok paranoid, yang menanggung kecemasan pada dua frasa. Dua frasa ini merupa hantu, bergentayangan, menyusup, menyelinap, dan acapkali hadir dalam sengkarut mimpi, mengganggu tidur. Dan saat bayangannya hadir, ia membawa kaleidoskop [...]
February 17th, 2010
wawan
Sebuah Cerpen Karya : Yeni Andriaty
Teruntuk: Lelakiku Tercinta,
Sayang, malam ini kembali kuteteskan airmata di bantalku, setelah sebelumnya aku menangis ketika bersimpuh menghadap-Nya. Ketika kuyakini bahwa Tuhan tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan umat-Nya, namun dalam keadaan yang seperti ini aku sungguh merasa jika cobaan ini terlalu berat untuk aku pikul sendirian. Salahkah jika [...]
February 17th, 2010
wawan
MENGGIGIL tubuh Rasti, berjalan cepat menerobos udara subuh. Berkali-kali ia mengeratkan jaket, berusaha mengusir dingin. Kabut masih mengeremang di udara, terkadang menghalang pandang mata Rasti yang sembab merah. Semalam Rasti hanya tidur beberapa jam. Beberapa jam yang sangat menggelisahkan. Pandu, anak laki-laki semata wayangnya sudah dua hari demam, tergolek di atas ranjang. Tapi bukan itu [...]
February 16th, 2010
wawan
Dan kamu hanya tersenyum…kaku…itu yang kulihat. kupandang terus…terus…dan terus…15 menit lamanya…aku mencoba mengadukan pandanganku dengan bola matamu…sesekali aku menunduk..malu..kemudian mencoba kembali tengadah..meskipun akhirnya kembali tertunduk. dalam hati tidak kuasa berucap…”subhanalloh…sunguh indah ciptaan-Mu ini ya rabb..ijinkan aku selalu dapat memandanginya…meskipun hanya lewat bingkai kecil…aku harap ini bukan dosa..”
Katanya..beradu pandangan untuk pertama kali dengan wanita itu adalah [...]
February 16th, 2010
wawan
Aku ingin menulis sebuah cerpen tentang banjir lumpur yang melahap pemukiman itu. Bukan menulis esai. Tapi bagaimana bisa aku menulis cerpen jika aku ingin marah-marah saat ingat betapa beratnya para pengungsi yang kegerahan setiap siang seperti ini.
Aku baru saja datang dari kamp pengungsian mereka. Aku melihat seseorang menangisi rumahnya yang sedikit demi sedikit ditelan lumpur [...]
February 16th, 2010
wawan
Seorang perempuan dan laki-laki sedang melaju lebih dari 100 km/jam di jalan dengan sebuah motor.
Perempuan : Pelan-pelan, aku takut.
Laki-Laki : Tidak,ini menyenangkan.
Perempuan : Tidak, ini sama sekali tidak menyenangkan. Please, aku takut!
Laki-Laki : Baik, tapi katakan dulu bahwa kau mencintaiku.
Perempuan : Aku mencintaimu! Sekarang pelankan motornya!
Laki-Laki : Sekarang beri aku pelukan yang erat.
(Lalu Perempuan itu [...]
February 15th, 2010
wawan
??Pagi itu klinik sangat sibuk. Sekitar jam 9:30 seorang pria berusia 70-an datang untuk membuka jahitan pada luka di ibu-jarinya. Saya menyiapkan berkasnya dan memintanya menunggu, sebab semua dokter masih sibuk, mungkin dia baru dapat ditangani setidaknya 1 jam lagi.Sewaktu menunggu, pria tua itu nampak gelisah, sebentar-sebentar melirik ke jam tangannya.Saya merasa kasihan. Jadi ketika [...]
Komentar Terbaru