Home > Cerita, Cerpen > Denting Piano di Pagi Itu

Denting Piano di Pagi Itu

Hari masih teramat pagi. Kabut pun masih tebal bergulung-gulung. Belum ada terik mentari sehingga belum masanya pula titik-titik embun menguap meninggalkan dedaunan. Jalan menanjak agak becek berkat hujan semalam yang meski hanya sebentar, mencurah dengan derasnya. Rieke tak bisa berjalan seperti biasa. Terkadang, ia harus melompat-lompat kecil, menghindari genangan. Sepatu sport yang dipakainya, berlumur lumpur sudah. Meski demikian, lumpur pada sepatu ini tak dianggapnya sebagai masalah. Justru ia tetap bersemangat melangkah di jalan setapak, yang terselip di antara rerimbun daun-daun teh itu.

Rieke berhenti sebentar di sebuah tepi. Ia memejam. Sambil membentangkan kedua tangan, ia menghirup dalam-dalam udara murni yang tentu saja tak terbatas jumlahnya. Setelah sempat singgah sebentar di rongga dada, udara itu diembuskannya secara perlahan. Ada semacam perasaan lega yang mendadak menggenangi hatinya. Ia membenak, betapa senang rasanya bisa kembali menikmati suasana di sini, jauh dari kebisingan, jauh dari hiruk pikuk dunia.

Memang, telah sebulan ia tak beredar di sekitar sini. Ia menumpang tinggal sementara waktu di Jakarta, di rumah seorang teman. Vila kediaman di kawasan Puncak ini ia tinggalkan beserta Dika, suaminya.

Mencoba menjadi seorang istri yang baik, ia akhirnya menuruti apa yang sesekali dipinta lelaki itu. Mulanya, ia keberatan sesaat sehabis Dika mengajukannya. Bagaimanapun, Rieke tak mau berpisah meski hanya sebulan. Dika kemudian berhujah bahwa ia berkemauan keras menyelesaikan sebuah komposisi piano yang tak segera rampung dalam tiga bulan terakhir. Diyakini Dika, bagian akhir komposisi itu akan menjadi bagian terindah dan baru bisa ia temukan jika ia sendirian, tanpa sesiapa di dekatnya. Dika jujur mengabarkan pada Rieke bahwa ia hampir frustasi dilanda kepayahan dalam menemukan bagian puncak yang pas untuk komposisi itu. Dan, tiga bulan bukanlah waktu yang sekejap. Ia terjebak dalam intro dan sebagian isi, yang membuatnya terkungkung dalam kejenuhan.

Berbeda dengan Dika, meski permainan itu telah diulang sekian ratus kali, tetap saja Rieke terbuai bahagia mendengarnya. Bagi Rieke, komposisi itu tentu dipersembahkan terkhusus untuknya, terlahir dari perasaan kasih mendalam yang dimiliki Dika. Ia merasa tersanjung ketika Dika meyakinkannya bahwa denting demi denting piano itu memanglah wujud dari perasaaan cinta mendalam yang dipunyainya untuk Rieke. Dengan demikian Rieke menjadi sadar bahwa sayang juga jika komposisi itu tak rampung-rampung. Akhirnya ia mengalah. Tak apalah! Tak ada ruginya memberi kesempatan pada Dika untuk sesekali menyendiri. Bukankah ia lelaki yang begitu baik?

Rieke menarik kesimpulan demikian setelah menyadari Dika memang tak pernah mengabaikannya meski Rieke dalam keadaan tak diharapkanpun. Beberapa bulan yang lalu, dokter telah memvonis Rieke. Ia menderita kanker rahim dan sampai kapan pun tak akan bisa memberikan buah hati pada Dika. Sehabis operasi pengangkatan rahim, dengan perasaan bersalah yang menggunung dan mata bening yang basah, Rieke tak bisa menahan diri mengangsurkan tanya padanya. “Kau akan berubah sehabis tahu aku tak akan bisa memberimu keturunan?” Disertai perasaan kasihan, Dika berupaya sedapat mungkin menyembunyikan kekecewaan dan mengatakan pada Rieke jika ia tak akan berubah. Ia tak akan pernah mempermasalahkan itu.

Rieke terus berusaha bertanya lebih mendalam lagi : akankah Dika meninggalkannya menuju perempuan lain dalam upaya mencari keturunan? “Bukankah semua laki-laki merasa hina jika sampai garis keturunannya tak berlanjut?” Lagi-lagi Dika bersusah payah menenangkannya yang mulai jatuh dalam tangisan hebat dengan mengatakan tak pernah ia terpikir untuk berpaling pada perempuan lain meski Rieke tertimpa sesuatu yang tak diharapkan. Awalnya sulit meyakinkan. Namun, berkat usaha yang tak kenal lelah, segala kekhawatiran Rieke akhirnya lesap. Ia luluh, ia memercayai Dika.

Kenyataannya kemudian, keadaan yang sungguh menyakitkan itu, tidak membuat rumah tangga mereka goyah. Mereka berdua sama-sama kuat dan terus melanjutkan hidup sebagaimana biasa di kawasan perbukitan itu.

Sepasang suami istri yang seniman ini memang sangat membenci kebisingan. Sama-sama mereka menganggap, barulah terasa hidup jika tinggal di kawasan perbukitan. Dan itupun harus berdua, tanpa orang lain, tanpa pembantu. Sebulan setelah menikah, mereka membeli tanah di perbukitan ini dengan harga yang lumayan mahal lantas membanguan sebuah vila megah bergaya Eropa di atasnya. Semua kemegahan dan kemewahan hidup ini semata dapat mereka capai karena profesi keduanya sama-sama bisa mendatangkan uang dalam jumlah berlimpah. Sebagai pelukis ternama karya Rieke banyak diburu kolektor yang siap membayar dengan harga yang mencengangkan. Sementara, sebagai musisi dan pencipta lagu, tak sedikit pula rupiah yang bisa diraup Dika. Namun demikian, rasa kesepian tersebab tak adanya buah hati, sesekali datang juga menyerang. Itulah masalah yang terasa mengganjal dalam kehidupan mereka dan membuat rasa bersalah Rieke seringkali kambuh.

Sesungguhnya, Rieke bukannya tidak mengusahakan bermacam cara demi mengatasi kegalauannya akan ketakhadiran kebahagiaan karena tak adanya anak. Beberapa kali ia telah mengusulkan pada Dika untuk mengadopsi namun Dika tegas menolak. “Bukankah karya-karya musikku dan lukisan-lukisanmu bisa kita anggap sebagai anak-anak kita?” Itulah yang selalu dikatakannya demi meyakinkan Rieke bahwa ia tak pernah mempermasalahkan ketidakhadiran sosok buah hati.

Rieke akhirnya bisa merasa tenang. Ia menjadi sadar, tak ada alasan baginya untuk tidak bersyukur pada Tuhan setelah dikarunia seorang suami yang begitu baik, begitu bisa menerima dirinya dalam keadaan apapun.

Kepulangannya ini sebenarnya ia majukan dua hari dari kesepakatan tanggal yang sudah mereka tetapkan. Ia sengaja melakukan itu dalam upaya memberikan kejutan pada Dika. Ia tahu, lelaki itu suka kejutan sebagaimana juga ia suka memberikan kejutan-kejutan kecil pada Rieke.

Sehabis meneguk sedikit air mineral, Rieke melanjutkan perjalanan. Kebun teh di kanan kirinya mulai menampakkan denyut kehidupan. Beberapa gadis bercaping bambu dan bersepatu karet selutut mulai bersiap melakukan aktifitas pemetikan teh. Rieke menegur sapa mereka yang beberapa diantaranya ia kenal baik. Salah satunya bertanya mengapa dalam waktu sebulan ini mereka sama sekali tak melihat ia di sekitar vila dan perkebunan ini. Rieke bilang ia berkunjung ke rumah temannya di Jakarta.

Sehabis bertukar tawa, Rieke kembali melanjutkan perjalanan. Mentari mulai muncul. Embun-embun mulai menguap. Ada sekawanan kupu-kupu indah beraneka rupa yang melintas terbang bermain-main di hadapan Rieke. Rieke begitu bahagia dengan semua ini, pagi ini. Ia begitu bersyukur, rasa-rasanya segenap semesta menyuguhkan pemandangan dan laku turut bersuka cita bersamanya. Kupu-kupu telah terbang menjauh dan Rieke kembali lagi melanjutkan langkah kakinya.

Kini, vila indah yang dituju mulai terlihat, meski hanya berupa sebuah titik kecil putih di atas sana. Melihat itu, langkah Rieke menjadi semakin cepat. Apalagi, ia mulai mendengar juga sayup denting piano dari sebuah komposisi yang begitu dikenal dan diakrabinya dalam bulan-bulan ini. Ia begitu merindukan denting-denting itu. Ia merasa seperti menemukan kembali sebuah pencerah yang bisa membuat perasaannya bahagia tiada tara, sebuah titik yang serasa pernah meninggalkannya selama sebulan ini. Ia begitu mencintai denting-denting itu, ia begitu mencintai pembuatnya. Ia lagi-lagi tersenyum sendiri, membayangkan betapa terkejutnya Dika akan kehadirannya sebentar lagi.

Denting-denting piano semakin terdengar jelas di pagi itu. Rieke berhenti untuk menajamkan pendengaran ketika denting itu sampai pada bagian yang sebelumnya belum pernah ia dengar. Betapa perasaaan bahagia langsung membanjirinya setelah memastikan bahwa denting-denting puncak yang sekaligus bagian terindah dari kompisisi itu telah ditemukan. Serta merta Rieke merasa terharu dan matanya jadi berembun. Ia menambahkan kecepatan gegas langkahnya. Terdengar, komposisi itu dimainkan kembali dari mula.

Sampai di depan vila, Rieke langsung membuka gembok pagarnya dengan kunci yang dimilikinya sendiri. Ia tak sabar ingin memeluk lelaki itu dari belakang, menumpahkan segenap rasa kangennya, ingin kembali menegaskan bahwa ialah lelaki yang akan selalu menjadi penyemangat hidupnya. Maka, demi itu semua, tak ada yang bisa menahan langkah setengah berlarinya menuju pintu utama vila itu. Ia segera membukanya dengan kunci miliknya dan dua daun pintu itu langsung terbuka.

Ia melihat, sang suami bersama pianonya. Tentu itu adalah pemandangan biasa. Yang tak biasa adalah, ia juga melihat seorang perempuan setengah bugil duduk di samping sang suami. Sebelah tangannya memegang segelas wine, sebelah tangan lagi bertumpu pada paha Dika.

Jemari Dika berhenti menekan tuts-tuts. Mukanya mendadak sepucat mayat. Ia tak segera bangkit, tak bisa menemukan kekuatan dari dalam diri sendiri untuk berkata-kata. Sementara itu, Rieke makin terpaku di depan pintu. Matanya tak lagi berembun sebab embun-embun itu telah menjelma rembesan-rembesan air yang telah tumpah membasahi pipi. Hatinya remuk, keperihan meriap di dadanya. Ia tak menyangka jika denting demi denting piano yang biasanya ia rasakan sebagai tetes demi tetes bahagia yang tak henti membasahi hatinya itu kini telah direnggut perempuan lain. Sungguh, ia tak pernah mengira itu.

Tak ada lagi artinya ia berdiri di sana. Rieke bergegas menjauhi vila itu untuk selamanya, meninggalkan Dika di dalamnya bersama denting-denting piano yang bukan lagi miliknya. ***

Cerpen Rama Dira J

Kata Kunci:

Tidak ada artikel yang berkaitan.

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CommentLuv Enabled