Gelang dari Kota Tua
Azan magrib mengapung di langit.Sunu membelokkan mobilnya ke sebuah hotel.Tak mau mengambil risiko dalam perjalanan, diputuskannya bermalam di kota kecil itu.
Bukan mudah menyetir mobil sendirian tengah malam, melewati leliku hutan pinus dan jati, menempuh jalan yang berhias lubang di sanasini, bila tubuh sejak tadi mengirim sinyal letih. Setiap mengurus bisnis mebelnya di luar kota, Sunu pasti melintasi kota itu.Namun, baru kali ini dia bermalam. Usai mengurus reservasi kamar, pegawai hotel mengantarnya ke lantai atas. Di ujung anak tangga, sebelum melewati lorong, Sunu memergoki empat gadis berdandan seronok duduk santai di lobi sederhana sambil nonton televisi. Mereka melirik plus melempar senyum tipis buat Sunu. Kamar Sunu persis menghadap jalan raya.
Deru kendaraan di luar terdengar jelas. AC model lama yang menempel di atas ventilasi jendela berisik kasar.TV 14 inci bertengger di atas almari tua.Kamar mandi berbau tak sedap.Ada pintu ke balkon. Sunu mengintip dari balik tirai jendela.Dua kursi plastik dan jemuran kecil di balkon. Di seberang jalan berderet ruko-ruko tua.Di belakangnya tegak bangunan memanjang berbentuk kubus yang disulap jadi sarang walet. Usai mandi, ingin menikmati suasana malam, Sunu membuka pintu ke balkon.Tak banyak yang Sunu tahu tentang kota kecil itu, selain kota tua dekat pantai yang dulu jadi pusat perniagaan.
Terdengar kicau walet-walet palsu dari arah bangunan hitam menjulang itu. Burung-burung -entah sriti atau walet- seliweran di langit kelam. Sunu melempar pandang ke kanan.Di seberang sana ada deretan ruko baru selesai dibangun dan nampak belum dihuni. Bentuknya kontras dengan deretan ruko di seberang kamar Sunu yang kentara sekali usianya, sudah uzur. Sekitar dua ratus meter di ujung kiri nampak simpang jalan. Merasa kesepian di kota asing, Sunu menelepon istrinya. Mengabarkan terpaksa bermalam di hotel itu. Besok pagi dia melanjutkan perjalanan dan baru tiba di rumah menjelang senja.
***
Raung motor yang sesekali merobek senyap malam membuat kantuk enggan singgah ke mata Sunu. Dia keluar kamar menuju lobby.Pegawaihotelyangtadimengantarnya ke kamar sedang menonton film laga Mandarin.Kaget melihat Sunu, buru-buru diturunkan kakinya yang selonjor di atas meja.Tersipu disapanya Sunu. Seraya meletakkan pantat di sebelahnya, Sunu berdalih susah tidur di tempat asing yang pertama kali disinggahinya. Mereka saling bertukar nama.
Dudung, nama pegawai hotel itu.Posturnya pendek gempal, rambut keriting ikal. Perutnya buncit hingga kaos tipis yang dikenakan nampak sesak di badan. Sunu menaksir usianya sekitar dua puluh lima. Tak butuh waktu lama, Sunu bisa menyimpulkan Dudung lelaki yang gemar berceloteh. Tanpa sungkan dan penuh percaya diri dia mendominasi pembicaraan. Sunu dibuat lebih banyak menyimak. Tentang awal kerjanya di hotel itu, kisah-kisah menarik selama lima tahun jadi pegawai hotel, keluarga di kampung, juga ingatannya tentang kota tua itu.
Sunu tak kaget mendengar bahwa hotel itu termasuk hotel tua. Dudung cengengesan saat Sunu mengungkit sejumlah wanita yang beberapa jam tadi duduk di bangku itu. Kata Dudung, mereka lonte yang biasa mangkal di hotel itu. Menjaring mangsa tamu-tamu yang iseng dan kesepian.Alis Sunu naik diberi tahu separuh mereka sedang kerja di kamar hotel.Yang lainnya sudah pergi entah ke mana.Tanpa tedeng aling-aling, bak sales mempromosikan dagangan, Dudung menawarkan pelacur belia yang masih duduk di bangku SMP.Kerjanya sore hingga tengah malam saja.
Cerita- cerita macam ini sudah sering Sunu dengar.Tapi yang membuat Sunu penasaran dan sukar percaya, germonya adalah ibu kandungnya sendiri. Konon, ibunya mantan lonte yang enam kali menikah dan semuanya berantakan. “Mungkin dia sadar sudah tak laku lagi, jadi anaknya yang dijadikan modal, ”simpul Dudung sembarangan. “Malah dia sendiri yang mengantar anaknya ke kamar tamu, ” imbuhnya. Di zaman sekacau ini, apa yang tak dihalalkan orang untuk dapat uang? Piker hati kecil Sunu.
***
Mendekati waktu yang telah disepakati, Sunu kian gelisah dalam kamar. Iseng, penasaran, syahwat, menyesal, dan rasa bersalah hilir mudik dalam batinnya. Hingga getar ponsel membuncahkan lamunan. Suara perempuan dalam ponsel mengabarkan dia sudah tiba di parkiran hotel dan menanyakan kamar Sunu. Telinganya menangkap ketipak langkah sepatu wanita di lorong hotel.Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk. Sunu menarik nafas dalam-dalam sebelum membuka pintu. Seorang perempuan paruh baya berdiri di depan pintu. Make up tebal menyembunyikan kerut di wajahnya. Tubuhnya gembur berlemak.
Di balik punggungnya ada gadis mungil melengos salah tingkah. Sekilas Sunu melihat kemiripan di wajah mereka. Setelah keduanya masuk, Sunu menutup pintu kamar. Duduk berhadap-hadapan di tepi ranjang dengan Leli, perempuan itu, membuat Sunu rikuh.Sementara, gadis itu duduk di kursi menghadap lemari seolah menyembunyikan wajahnya dari mata Sunu. Usai minta maaf karena terlambat datang, Leli mengenalkan Ayu, gadis mungil itu.Sunu berdiri, memberi isyarat agar Leli mengikutinya ke balkon. “Mas nggak usah repot-repot ceramah untuk saya.Orang pintar sudah banyak.
Tapi mereka nggak mau tahu kenapa kami pilih jalan ini.Perut kami tak bisa diisi dengan ceramah.” Sunu kaget diketusi dengan santun macam itu.Singkat cerita, lima lembar uang lima puluh ribuan dari dompet Sunu pindah ke tangan Leli.Perempuan itu bergegas pamit. Sesuai perjanjian, dia akan menunggu di parkiran. Gadis mungil hitam manis itu masih duduk menyandarkan punggung ke tembok dekat pintu kamar. Sungkan dan salah tingkah. Sunu turun gelanggang, menawarinya minuman ringan yang siang tadi dibeli dalam perjalanan. “Dia…” Sunu menunjuk Leli yang baru keluar kamar, “ibu kandungmu?” Kepala Ayu mengangguk pelan.
“Sudah lama kamu seperti ini?”Ayu menggeleng, “Baru setengah tahun, Om.” Sunu terpana. Benarkah yang dikatakannya barusan atau cuma tipuan yang diajarkan Leli? “Kenapa mau disuruh kerja macam ini?”Sunu sadar pertanyaannya naif, bahkan bodoh.Tapi dia penasaran ingin mengorek kisahnya lebih dalam.Ayu tak menjawab. Dia bergerak ke tepi ranjang.Tanpa sungkan, tak menunggu perintah, ditanggalkan kaos biru ketatnya hingga menyisakan bra merah muda yang menantang mata dan naluri Sunu. Sunu menelan ludah serasa menelan beling.
Tiba-tiba dia disentak perasaan asing, serasa ditampar perasaan bersalah. “Tidak! Tak usah! Pakai lagi bajumu, ” Sunu gugup.“Aku cuma mau ngobrol denganmu, ” sergah Sunu.Ayu tertegun menatap Sunu, tak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Baru kali ini dia bertemu lelaki aneh. Setelah berduaan dalam kamar malah enggan melepas hajatnya. Enak juga kalau tiap lelaki seperti Sunu, pikir Ayu. Mengeluarkan uang cuma untuk mendengar kisah pahitnya. Begitulah, waktu berlalu dengan percakapan. Kisah-kisah klise yang kerap didengar Sunu tentang gadis-gadis macam Ayu. Tentang impian-impian yang sederhana, harapan selepas lulus sekolah. Hingga waktu yang disepakati habis.“Ayu langsung pulang. Om.
Kalau kemalaman, besok bisa ngantuk di kelas, ”tegasnya. Ayu pamit.Ada yang terasa lembab merembes dalam batin Sunu saat Ayu mencium punggung tangannya. Ayu menampik saat Sunu ingin mengantarnya ke parkiran hotel, tempat ibunya menunggu. Melepasnya dari pintu kamar, menatap punggung mungil itu menjauh meninggalkan gema di lorong yang lengang, Sunu ngeri membayangkan nasibnya kelak. Sekuat apa Ayu sanggup menyembunyikan kisahnya dari teman, guru, dan lingkungannya? Ketika anak-anak sebayanya sedang belajar atau menonton televisi, dia larut dalam dunia gila. Hinggap dari satu kamar ke kamar lain, menahan nafas, remuk dalam peluk lelaki.
***
Sunu terkesiap memergoki sebuah benda teronggok di meja. Diraih dan diamatinya gelang hitam bermotif etnik itu. Yakin gelang milik Ayu, dia bergegas keluar kamar, mencari Ayu sebelum keburu menghilang.Dudung nyengir melihat Sunu muncul. Entah apa yang ada di benak salessyahwat itu, Sunu tak peduli. “Wah, mereka sudah pulang, Mas.Saya nganter sampai parkiran hotel.”sahut Dudung saat Sunu menanyakan Ayu dan Leli. Diceritakannya perihal gelang Ayu yang tertinggal dalam kamar.
“Ah, biarin aja, Mas.Dia bisa beli selusin gelang murahan macam itu dari hasil kerjanya malam ini.” celetuknya ringan.Sunu bengong.Dia ragu menitipkan gelang itu pada Dudung. Bisa jadi tak kembali ke pemiliknya. Sunu mencoba menelepon Leli, namun ponselnya tak aktif. Kembali ke dalam kamar, Sunu duduk termangu di tepi ranjang. Jejak parfum murahan yang dipakai Ayu membekas di selimut.
Menimbang apa yang mesti diperbuat dengan gelang itu membuat uraturat halus di kepalanya berdenyut. Apa yang baru dialaminya membuatnya tak habis pikir. Sangat disayangkan, ibu yang jadi germo untuk anak kandungnya sendiri. Cuma uang kah yang berkibar dalam otak Leli saat menjual Ayu? Hingga subuh turun, Sunu sulit mengatupkan pelupuk mata, walau ia terasa lelah.
***
Ambang senja Sunu tiba di rumah. Delapan jam menyetir mobil membuatnya penat.Tentu, dia tak akan bodoh menceritakan kejadian semalam kepada istrinya. Biarlah mereka tahu semua berjalan baik-baik saja.Diambilnya berkasberkas dan tas kerja dari jok belakang mobil, lalu menuju pintu yang terbuka. Sunu kaget melihat Rani menghambur ke beranda.Dia nampak sangat tergesa.Tapi semua nampak baik-baik saja sore itu.
Bapak dan anak gadisnya duduk di sepasang bangku jati yang dipisahkan meja kecil.Tak ada rengek menagih oleholeh dari mulut Rani.Sunu menghela nafas.Wajah putri sulungnya itulah yang membuat birahi Sunu kontan lenyap saat menatap Ayu menanggalkan baju.Yang membuat batinnya serasa ditampar sesuatu. Sambil mengikat tali sepatu, Rani memberi tahu Ibu sedang pergi ke tempat temannya sejak siang. Mobil sedan berkaca gelap yang parkir di seberang rumah rupanya teman Rani yang tak sabar menunggu. Mereka hendak ke tempat kursus bahasa Inggris.Tak lama kemudian, Rani pamit.
Meraih dan mencium punggung tangan kanan Sunu. Batinnya berdesir serempak dengan air mukanya yang berubah, memergoki gelang yang melingkar di tangan kanan Rani.Mirip sekali dengan gelang Ayu. Tenggorokannya mendadak kelu. Sunu gugup. Dia lupa di mana menaruh gelang itu. ***
Cerpen M. Arman AZ
http://www.sriti.com/story_view.php?key=3497
Kata Kunci:
- www kicau-walet com (2)
- pintu kamar mandi plastik (2)
- mantan lonte (2)
- cara bikin gelang simpul (1)
- simpul untuk gelang (1)
Tidak ada artikel yang berkaitan.


Komentar Terbaru