Home > Cerita, Cerpen > Sang Hawa Yang Tak Bernama

Sang Hawa Yang Tak Bernama

February 5th, 2010 wawan Leave a comment Go to comments

Kulihat mata itu masih bersinar di bawah pohon rindang dekat sekolah, setitik kristal tersisa jelas di kacamata yang menempel pada wajah tertutup kain bermotif bunga.

Sebenarnya lelaki itu menegaskan dirinya. Mencoba mengingat-ingat sederet nama yang pernah hadir dalam hidupnya. Nama perempuan-perempuan yang dikenalinya, teman, sahabat bahkan beberapa nama perempuan yang pernah singgah di dada lelaki beralis lebat itu.

Alis lebatnya itu naik beberapa centi, bibirnya tergigit renyuh disebabkan saraf otak yang begitu keras memikirkan nama perempuan di bawah pohon rindang dekat sekolah menengah dahulu.

Kalau saja kelebatan nama-nama perempuan itu tidak luput dari ingatannya, mungkin takkan sampai lelaki itu mematung di pinggir jalan, memandang lurus pada perempuan tak bernama. Perempuan yang mencipta air cinta.

Mengapa lelaki itu tidak mengingat sama sekali, nama lengkap atau sekadar nama panggilan perempuan yang setia berdiri tegar mengulum senyum itu.

Ah, rupanya lelaki itu masih menyesali keadaan dirinya yang hanyut dalam kelupaan. Amnesia 85 persen. Kalau begitu mengapa semua nama perempuan saja yang melayang dari pikirannya. Sedang sejumlah nama lelaki masih tersimpan rapi dalam kepala yang terhitung cerdas di sekolah dan di kampusnya.

Ahmad Mukhlisi, kawan di madrasah diniyah adalah nama yang tak pernah hilang dari bayangannya, sebab Ahmad saingan berat lelaki itu. Tak pernah Ahmad memberikan peluang lelaki itu lebih tinggi dalam meraih peringkat di kelas, keculai ia menjadikannya berada di peringkat kedua. Selalu begitu.

Atau kawannya, ah lawannya mungkin, Heri Setiawan, sebaya yang pernah memusuhi dan mengajaknya berkelahi di ruang kelas, Hasan dan Husen, si kembar saat Tsanawiyah dulu, Adi Saputra teman sebangku SMA, Edi pelayan frenchise dan Bima, Saiful, Indra serta nama lelaki lainnya masih melekat jelas, tersimpan di ingatan.

Semuanya tak membuat lelaki itu kesal, ketika tak ada satu pun nama perempuan tersisa di memorinya.
Lalu, apakah ia melupakan nama Tuhan?

Untung, Tuhan tidak berjenis kelamin. Maka lelaki itu mengenal nama Allah Subhanallu Wa Ta`ala, Rasul lelaki dan sahabat lelaki ia mengingatnya. Akan tetapi takkan sanggup ia mengingat-ingat nama-nama istri nabi, atau nama ibu Isa alaihisalam apalagi nama perempuan yang pernah menggoda nabi Yusuf alaihisalam.
Lupakah ia mengingat namanya?

Tentu tidak, sebab dirinya adalah lelaki. Abdul Bari` nama pemberian ayahnya yang setia membesarkannya tanpa ibu yang tak dikenali lelaki yang dipanggil Bari` itu.
“Astaghfirullahal `adzim Ya Allah, hamba tak kuasa mengingat nama perempuan itu. Hamba tak ingat siapa panggilannya, ya allah.” Sepuluh jarinya merenggut keras rambut ikalnya hingga tertarik ke belakang, dahinya menampakkan kekelaman, kekhilafannya kampuh pesat.

Bari` masih bersikeras mengembalikan ingatan nama-nama perempuan yang pernah menghadirkan bias-bias asa. Perempuan yang pernah dicinta.

Percuma saja ia mematung diri. Menyembunyikan perasaan di balik gerbang depan sekolah. Padahal keduanya adalah bukan anak usia sekolah. Bari` dan perempuan hilang nama itu, dalam waktu dekat akan meraih gelar sarjananya. Namun keduanya masih tak sanggup menyatakannya.
Inilah rahasia cinta. Dalam kerinduan masih sabar menjaga asa.

Bari` takkan mengurungkan niatnya. Ia sudah bulat menjemput perasaan yang pernah ditundanya. Tak ada waktu lagi. Bari` telah lama menenggelamkan dirinya dalam barisan rumus-rumus kimia, meninggalkan nyanyian cinta, dunia asap dan kehidupan gemerlap malam. Bari` melupakan kemaksiatan. Mengubah salah menjadi shalih. Jahat menjadi jahid dan mengubah saru menjadi syar`i.

Subhanallah, di tangannya tergenggam mushab. Tak urung bibirnya melantun dzikir tanpa hitungan bundaran tasbih kecuali ibu jari yang menyapa buku jari. Pantas kening itu melukis warna kelam menutup dosa-dosa kefanaan. Rupanya Bari` mencirikan kebaikan atas perintah Illahi.

Setelah mengasingkan diri dengan para perempuan. Sekarang nama-nama perempuan telah menguap mengudara kering tak tertangkap awan jenuh. Tidak ada lagi perempuan yang menginspirasi tulisannya. Bukan juga karena berlama-lama dengan berbagai laki-laki sehingga menyangka Bari` mengikuti kaum nabi Luth, sedangkan ia tetap berbingkai keislaman yang membaik.

“Betapakah otaknya yang besar tak menyisakan barang satu nama seorang perempuan pun yang pernah mendengar ucapan cintanya?” perempuan tanpa nama itu menyesali diri. Kehilangan cinta Bari` yang pernah menyatakan keinginan Bari` menjadikan perempuan itu `pacar` sma dulu.

“Ya Rabbi, salahkah jika hamba menginginkan Bari` yang lebih baik dari Bari` yang dulu? Ataukah hamba bukan sebagian perempuan baik-baik lagi karena menangisi cinta Bari` yang hilang, seperti melupakan nama hamba kini?” tanyanya dalam doa di waktu dhuha. Kristal bening itu menetes lagi melewati pipi perempuan tanpa nama, hilang di ingatan Bari`.

Kalau saja ia masih simpatik kepadaku, setidaknya ia ingat pohon rindang tempat perempuan tanpa nama itu menanti cinta. Ada pahatan kecil di batang pohon rindang tersebut. Bari` dan Nisa.
`Ingatkah ia pada surat-surat yang mengisahkan perempuan di dalam al-quran yang sering dibacanya.

Di sana ada namaku Bari`. Hati Nisa begitu sesak menanti Bari` kembali menyatakan cinta sesungguhnya. Cinta yang telah dipelajarinya dalam 2 kitab besar. Al-quran dan hadits. Bukan, bukan menyatakan, tetapi meminangnya. Itu satu keinginan besar Nisa. Cukup dengan quran bersampul hijau. Ia menginginkan Bari mengingatnya, sebentar saja.

Atau Nisa harus menggantikan namanya dengan nama lain seperti Umar, Badru, Zahran, Sobirin, atau menyingirkan keinginannya bersama Bari`.

Tidak ada artikel yang berkaitan.

Categories: Cerita, Cerpen Tags: ,
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.
CommentLuv Enabled