Renungan Bang Andi – Sehidup dan Semati
Seandainya ada mesin waktu seperti di film-film bioskop itu, saya pengen juga tuh punya satu biar umur saya bisa di-reset ke umur 25 tahun hehe … umur dimana masih banyak cita-cita yang harus diperjuangkan dan umur dimana laki-laki sedang mencari pacar untuk jadi calon istri .. hehe. Habisnya zaman sekarang begitu maju, tidak seperti jaman dulu yang kalau mau telpon saja harus nyari telpon umum yang tidak ada di sembarang tempat. Sekarang segalanya mudah, tinggal pencet HP sudah bisa ngobrol sama orang yang disayang. Jadi sekarang ini semuanya bisa di-remote. Pacaran juga bisa remote hehe.. kata iklan Nokia, gak penting cewek kita bisu atau tidak wong sudah ada Nokia yang bisa berkomunikasi dengan gambar, jadi bisa dengan isyarat pacar yang terlihat di monitor sudah paham gak perlu bicara. Itu iklan lho …
Mengenang masa pacaran dulu dengan calon istri, sungguh sesuatu yang sangat indah. Walaupun dulu tidak ada HP dan tergolong mahasiswa miskin, jadi pacaran jarak jauh perlu banyak ongkos tapi bisa irit. Dengan segala cara yang murah, ada yang namanya nebeng truk, atau naik bus sambung-sambung karena tiket bus malam tidak kebeli, adalah hal yang biasa. Bandung – Semarang terlalu mahal buat mahasiswa seperti saya waktu itu. Jadi pak Pos adalah orang yang paling saya tunggu-tunggu, sama juga dengan cewek saya waktu itu alias istri saya sekarang. Tidak seperti anak muda sekarang yang bisa pacaran dan kencan dengan mobil babenya, saya punya motor saja tidak pernah ganti oli tapi alhamdulillah motor itu tidak rusak lho .. Pak pos juga sangat hafal dengan alamat rumah kost saya, asal surat dari Semarang pasti dia udah teriak ‘mas ada surat tuh ..’ hehe. Yang namanya nonton hanya satu kali selama masa pacaran, itupun di sore sekitar jam 3. Entah bagaimana Allah menjodohkan kami, sebelum bertemu masing-masing sudah pernah pacaran lama dengan yang lain tapi gagal. Pertama kali ketemu di tempat yang tak disangka-sangka, di rumah kost temen yang satu lokasi dengan kost temannya, dia sedang liburan di Bandung ketika itu. Tak ada perasaan apapun, tapi 4 bulan berlalu gara-gara kartu Lebaran nganggur di meja belajar milik teman kost yang tersisa, saya iseng kirimkan ke dia di Semarang … maka nyambunglah hubungan cinta itu sampai saat ini, dengan amanah 2 orang anak perempuan dan laki-laki.
Kata ibuku dulu, istri yang baik sholihah dan gemati (istilah Jawa yang berarti sangat sayang) adalah anugrah Allah yang tiada tara. Kata-kata itu diucapkan ibu suatu malam, ketika saya mampir ke rumah setelah menemuinya di Semarang. Ibu memang bijaksana, mengerti perasaan anaknya. Maka pikiranku mulai menilai dia, sungguhkah ia calon istri yang benar bagiku…. Sholat malamku membuatku yakin akan dirinya, subhanallah …
Senin kemarin aku melayat sepupuku yang meninggal, dikuburkan didalam lubang yang sama dengan kuburan suaminya almarhum. Itu karena sudah tidak ada tanah yang kosong di pekuburan keluarga. Seusai do’a dipanjatkan, pikiranku melayang jauh …. Sungguh sesuatu yang sangat indah dan tak banyak yang mengalami …. Bahwa sepasang suami istri, bahagia dengan anak-anak yang berhasil semua dan soleh serta solihah. Hidup berpasangan sebagai suami istri di dunia terpisah sementara oleh kematian lalu bersatu kembali dalam liang kubur yang sama … Subahanallah …. Itulah yang diungkapkan orang-orang sebagai ‘sehidup dan semati’ …. Bukanlah sekedar lagu, tapi ini benar-benar terjadi. Hati saya jadi semakin kuat, ternyata kematianpun hanya sementara keterpisahan … bila memang Allah menghendaki ternyata bisa kok suami istri itu tetap bersatu di dalam kubur dan juga di akhirat kelak. Bahkan kalau memang manusia mau menaati dan mengikuti perintah-Nya dalam surat at-Tahrim ayat 6 : “yaa ayyuhalladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naaroo…. dst”, wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. Mungkin juga Allah memperbolehkan kita bersatu dengan istri dan anak-anak bersama di sorga …. Yaa Allah …. Terlalu besarkah dosaku dan cukupkah ibadahku untuk mencapai cita-cita itu ?? Terlalu banyakkah pelanggaranku terhadap aturan-aturanMu ? Ampunilah kami ya Allah, sanggupkanlah dan kuatkanlah aku memimpin keluargaku dalam keimanan kepadaMu… yaa robbil ‘Izzati ….
(Catatan tentang istri dan anak-anakku …)
Andi Rosano
andi_rosano@yahoo.com
Kata Kunci:
- bang andi (3)
- sehidup tak semati (3)
- wa ahliikum naaroo arti (2)
- sehidup (tak) semati (2)
- sehidup tak semati film (1)
Tidak ada artikel yang berkaitan.


Komentar Terbaru