Yang Kembali Ke Jalan-Nya
Aku tak pernah menyangka akan bisa sehebat ini. Rumahku besar, berhalaman luas. Hartaku banyak, bertumpuk uang di berbagai bank. Istri cantik, dan mungkin akan ditambah seorang-dua. Bukankan ini kenikmatan dunia? Apalagi anak-anakku menunjukkan prestasi seperti kehebatan bapaknya. Romi, anak sulungku, telah bekerja di perusahaan ekspor-impor dengan gaji hampir menyamaiku. Ruhut, si tengah, masih kuliah, namun tak kubiayai karena dia mendapat beasiswa dari pemerintah oleh kejeniusannya. Dan Sahat, si bungsu, kelas tiga SMA, dengan seabrek kepiawaian meracik kegiatan ekstrakurikuler. Apalagi yang harus disusahkan?
Tapi entah mengapa, hati ini tetap risau. Aku merasa setiap hari semakin berat menarik napas. Di dada ini, seolah penuh bergumpal tumpukan debu. Menyesakkan! Tidur juga tak lelap, makan tak lemak. Mimpi-mimpi buruk dan aneh, selalu bersiping-pong membuatku selalu berkeringat ketakutan setiap malam. Aku tak lagi dapat memberi nafkah batin istri yang masih muda dan ganas itu. Aku risau, galau, tanpa tahu penyebabnya.
“Mungkin mas perlu istirahat lebih lama setiap hari,” saran istriku yang terdengar bukan sebagai sebuah solusi. Karena aku bisa kalau ingin istirahat lebih lama setiap hari. Namun jika mata dan pikiran yang tak mau diajak kompromi, bagaimana?
“Hahaha!” Harjun tertawa ketika kuutarakan keluh-kesahku kepadanya usai aku menjadi pemakalah di sebuah seminar intelektual dan emosi. “Bagaimana mungkin aku dapat memecahkan masalahmu, teman. Seharusnya kaulah yang bisa menyelesaikannya dengan mudah. Bukankah dirimu sebagai pemakalah ulung tentang kejiwaan dan intelektual? Kau profesornya, Ambar!”
Aku terduduk lesu di jok belakang sebuah sedan. Harjun menyusul, kemudian sedan itu melaju perlahan membelah kota yang mendung. Suasana hening sejenak. Harjun kelihatan tak enak hati karena ucapannya barusan.
“Sorry, sebenarnya apa yang kau risaukan terus?” Akhirnya dia bertanya. Diberikannya aku cerutu eksklusif, namun kutolak cepat. Bisa-bisa sesak di dada ini semakin menggumpal karena benda keparat itu.
“Aku tak tahu apa yang kurisaukan,” jawabku gamang.
“Mungkin anak-anak mengecewakanmu?”
“Tidak juga!”
“Istri berselingkuh?”
“Dia istri setia!” Aku menselonjorkan badan. Pinggang terasa kaku setelah membaca makalah hampir dua jam di hotel elit itu. Harjun membisu. Cerutu dibuangnya, kemudian mengambil sebotol kecil minuman dari balik jas. Tampaknya beralkohol tinggi.
“Pernah mencoba menenangkannya dengan ini?” tanyanya seperti memberi saran.
Aku menggeleng. Seumur-umur aku belum pernah menyentuh apalagi menikmatinya. Aku murni dan suci dari barang-barang memabukkan. Termasuk obat-obat terlarang, bahkan rokok. Barangkali karena komitmen hidup ingin maju, membuatku berjuang keras menghindar dari segala hal yang bisa menyebabkanku tersandung. Ternyata aku berhasil. Aku sukses, namun mengalami kerisauan batin beberapa bulan belakangan ini.
Meskipun sebelumnya tak ingin menyicipi sebotol kecil minuman dari Harjun, malam harinya aku pun tergoda. Siapa tahu sarannya bagus. Meminum minuman beralkohol bisa menenangkan pikiran suntuk. Ya, ini adalah kesempatan untuk membuktikannya. Istri dan anak-anak sedang tak di rumah. Mereka berpelesir ke Bali selama seminggu. Jadi, tak mungkin aku terpergok meminum barang haram yang selalu kutekankan kepada mereka agar tak didekati. Namun sekarang penakanan itu harus kulanggar.
Kuambil gelas. Kutuangkan sedikit minuman itu. Lalu menikmatinya dengan sensasi tak terkira. Benar, benar! Sekian menit berikutnya, pikiranku tenang. Aku merasa melayang. Tanpa berpikir panjang lagi, kuhabiskan minuman di dalam botol kecil itu. Aku mabuk. Terkapar di lantai.
Ternyata pagi-pagi aku tak dapat bangun rileks sebagai balasannya. Kepala pening tujuh keliling. Seperti dipalu bertalu-talu. Saran Harjun dengan minuman keparat itu, ternyata malah membuatku semakin semaput. Kutelepon dia setelah badan agak segar sekian jam kemudian.
“Obatmu tak manjur! Aku malah semaput!” gerutuku.
“Sorry, barangkali obat yang ini lebih bagus. Pikiranmu akan lebih cemerlang lagi dibuatnya,” candanya dari seberang. “Di rumah tak ada orang, kan?”
Aku mengangguk. Tapi setelah sadar Harjun tak mungkin melihatnya, aku pun menjawab, “Bolehlah! Tapi kalau aku semaput lagi, kuputuskan tali pertemanan kita,” ancamku, membuatnya tergelak-gelak.
“Tenanglah aku akan mengirimnya beberapa jam lagi. Nikmatilah! Kau kan sedang liburan tiga hari ini. Kesempatan baik, toh!”
Obat apalagi yang akan dikirim si gila itu kepadaku? Dia senang membuatku harap-harap cemas. Hingga aku selalu waspada bila bel rumah berbunyi.
Setelah tiga jam mondar-mandir, akhirnya bel berbunyi. Namun hanya ada perempuan cantik di luar. Pasti dia teman istriku. Sebab rata-rata temannya cantik semua.
“Maaf, ibunya lagi tak ada. Mungkin lain kali saja,” kataku dingin. Dia tak menjawab selain memberiku senyuman sedikit nakal. Dia malahan masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu. Pikiranku cemas. Aku takut dia kaki tangan perampok yang akan menguras seluruh hartaku. “Ibunya ke Bali!” tekanku.
“Aku tak mencari ibu. Aku mencari bapak.” Dia tertawa lembut sambil duduk sofa. Roknya yang sempit dan terlalu mini, membuat aku dapat melihat sesuatu yang mendesirkan darah pejantan di sana.
Segera ingatanku beralih kepada Harjun. Aku dapat menebaknya dengan tepat. Si gila itu ingin menghancurkan hidupku dengan perempuan itu. Gila, dia bukannya memberi obat, malah menambah penyakit di tubuh ini.
Ingin sekali aku menyuruh perempuan itu lekas-lekas keluar dari rumah. Tapi tingkahnya yang menggemaskan, dan terkesan nakal, membuatku tak tega. Kami menjadi berbincang cukup lama, sehingga menjadi akrab. Selanjutnya dapat ditebak, apa yang dilakukan sepasang insan berlainan jenis di tempat sepi? Ya, dua insan di tempat sepi akan ditemani setan. Setan tahu apa tugas berikutnya.
Rupanya obat dari Harjun sedikit membantu menghilangkan kerisauanku. Setelah istri dan anak-anak kembali dari pelesir, kupindahkan acara indehoy dengan perempun itu dari rumah ke hotel. Lalu bersama Harjun, di malam-malam selanjutnya, tinggal menjambangi tempat-tempat hiburan yang sangat mengasyikkan. Aku menyesal, mengapa setelah hampir kepala lima ini baru mengenal nikmatnya dunia. Kenapa tak dari dulu?
Tapi seenak-enak obat pemberian Harjun, rasa risau itu kembali mengganggu. Aku takut terkena penyakit nakal karena sering berbuat nakal beberapa hari belakangan ini. Lagipula aku cemas suatu waktu nanti istri dan anak-anak mengetahui sepak terjangku. Aku pasti malu. Belum lagi bila orang yang pernah mendengar dan melihatku memaparkan makalah, memergoki perbuatan yang tak bagus itu. Mau ditaruh di mana wajah ini?
Ah, risauku bertambah-tambah. Atas saran Harjun lagi, aku mendatangi paranormal. Ada banyak pernyataan-pernyatan dari paranormal brengsek itu yang membuatku stress. Aku dikatakan terkena santetlah. Aku harus puasa mutihlah. Harus ini, harus itu. Setan! Lagi-lagi aku tetap risau. Seluruh saran Harjun membuat kondisiku semakin parah. Pekerjaanku tak karuan. Aku lebih sering di rumah ketimbang di kantor. Makalah-makalah tentang intelektual dan emosi yang biasanya up-to date dan selalu diperbarui, tak bisa lagi kuurusi, sehingga banyak seminar yang sudah deadline, terpaksa bubar.
Saat itulah, Kyai Mas Ud, bapak kandungku berkunjung dari kampung. Aku bukannya senang, malahan cemas tak ketulungan. Bagaimana tidak, bapak adalah kyai (meski kyai kampung) bermulut nyinyir menurutku. Dia pasti mencereweti segala tingkah-polah keluargaku yang melenceng dari tatanan beragama. Lalu kondisi di dalam dan di luar rumah, menjadi omelannya setiap hari. Tentu membosankan!
Dan ternyata dia memang datang dengan tabiat biasanya. Dia mencerewetiku tak tanggung-tanggung. Dia marah besar, manakala mengetahui tak pernah lagi aku mengajak istri dan anak-anak shalat, mengaji, berpuasa dan bersedekah. Katanya, “Untuk apa kekayaan melimpah, jika hati kalian miskin agama. Aku kesal memiliki anak-turunan seperti kamu-kamu,” katanya pedas. Aku dan yang lainnya membisu.
Oleh kehadiran bapak, terpaksalah kulakoni secara rutin kegiatan beragama yang telah lama ditinggalkan. Ternyata terasa berat dan mengesalkan. Namun aku tak ingin bapak marah-marah lagi. Aku ingin menunjukkan ketaatanku selama dia di rumah. Setelah dia pergi, tak lagi!
Tetapi apa yang terjadi selanjutnya? Kau harus tahu ini! Kiranya, setelah melaksanakan seluruh anjuran bapak, tiba-tiba risau yang mengganjal dada pupus sedikit demi sedikit. Semakin sering beribadah, bertambah lapang rasa di dada. Aku menjadi Ambar seperti lelaki yang bersemangat dulu. Aku melihat dunia bertambah ramah. Karena itulah, banyak hartaku kudermakan ke orang yang tepat. Kuhamburkan dan berfoya-foya di jalan Allah SWT. Namun selalu tak habis, sebaliknya semakin melimpah-ruah. Aku juga menjadi merasa orang yang paling beruntung di dunia. Ah, ternyata selama ini aku telah salah melangkah. Sungguh tak ada obat yang paling manjur untuk menghilangkan kerisauan di dada, selain kembali ke jalan-Nya.***
Cerpen Rifan Nazip
http://www.sriti.com/story_view.php?key=3492
Kata Kunci:
Tidak ada artikel yang berkaitan.


Komentar Terbaru